Kamis, 30 Juni 2016

Barangkali kau mau...

Aku merasakan...
Begitu erat genggamanmu
Matamu tajam melihatku
Aku dapat membacanya
Ada cinta yang kau rawat dalam hatimu untukku

Aku pun begitu...


Tidak, aku tidak memaksamu

Tidak, aku tidak memintamu

Aku sadari betapa bodohnya aku berharap dan mengkhayalkan kebahagiaan yang lebih utuh denganmu
Ya, aku tidak peduli
Harapan itu tetap selalu ada di hati ini
Biar, biarlah menjadi tanggunganku jika itu terjadi ataupun tidak
Aku tau Tuhan Maha Baik

Aku tak mampu berkata-kata lagi padamu
Aku hanya mampu berkata "Barangkali kau mau..."

Susah-susah-gampang!

"I want to be with you,
it's as simple and
as complicated as that."

Senin, 27 Juni 2016

See you soon, UNHAN!

Hi hi!
I'm so happy :-)
Akhirnya, ada kegiatan untuk kurang lebih 2 tahun ke depan.
Yeah, I did it. 
Saya lolos seleksi Program Beasiswa S2 Universitas Pertahanan. Senangnya, nanti akan berkutat lagi dengan ilmu pertahanan. 

Kesekian kalinya merasakan dalam hidup gw merasakan yang namanya kekuatan ikhtiar, berdoa, dan tawakal setelah sidang skripsi tahun 2015. 
Tiga tahap seleksi yang gw lewatin untuk seleksi ini, yaitu Seleksi Administrasi, TOEFL & Tes Potensi Akademik, dan Wawancara. Semua tes ini sistemnya gugur. Tahap demi tahap gw lewatin dan yeah Allah Maha Baik. Tawakal atau Berserah Diri. Yap, gw akuin Tawakal itu nikmat banget. Ketika kita sudah melakukan yang terbaik, dan berdoa, kemudian kita tinggal berpasrah menunggu hasilnya. Pada saat itu, gw pasrah, dalam artian gw udah siap mental nanti akan lolos seleksi atau enggak. Gw betul-betul serahin semuanya ke Tuhan, apapun hasilnya. Gw percaya rencana Tuhan adalah rancangan terbaik untuk hidup gw. Percaya, apa yang sudah menjadi rejeki kita gak akan tertukar sama orang lain. Kalo keterima itu rejeki kita, kalo gak, berarti rejeki orang lain. 

Now, I can't wait for the new chapter of my life. Semoga bisa menjalani ini dengan sebaik-baiknya. 
Allah bless us. 

Kamis, 09 Juni 2016

Cewek-cowok sahabatan? Kakak-adek-an? Hmm.

Hmmm, cewek punya sahabat cowok deket banget ataupun sebaliknya, hmmm kenapa ya gw gak percaya? Kalo ada cewek sama cowok ngaku sahabatan deket gitu, di otak gw pasti mikir salah satu mereka pasti punya perasaan sayang atau mereka saling menutupi perasaan sayangnya ke satu sama lain. Gw mikir kayak gini, karena seriously gw belum pernah ngerasain atau liat orang-orang lain yang cewek-cowok sahabatan tapi gak berujung pada jadian, atau salah satu dari mereka ada yang mengungkapkan rasa cinta/sayangnya ke sahabatnya.

Dan yang paling bikin gw bingung lagi adalah waktu jaman gw SMA hal yang paling fenomenal adalah "kakak-adek-an". Kalo orang ditanya "Eh lo pacaran sama kak A?" terus dia jawab "Gak kok, gw cuma adek-adek-an-nya doang." HAHAHAHAHAHAHA. Dari pemenggalan katanya aja udah ngebingungin yaaa. Mungkin beberapa dari kalian ada yang begini menjalani 'kakak-adek-an'. Gw cuma bingung, entah apa ya yang dimaksud dalam status hubungan ini. Semakin gw amati, akhirnya gw setuju dengan kata-katanya Raditya Dika, yaitu :

"Kakak-adek-an adalah pacaran yang tertunda."

Setiap orang yang punya pacar dan salah satu diantara mereka ada yang terlibat dalam status "kakak-adek-an' ujung-ujungnya cenderung mereka seperti ada dalam sebuah perselingkuhan.

Kalo mereka yang jomblo dan terlibat dalam status 'kakak-adek-an' ini adalah modus, modus dimana salah satu dari mereka ada yang punya rasa sayang atau dua-duanya saling menyayangi tapi ada beberapa faktor yang buat mereka gak pacaran.

So far, ini kesimpulan yang gw dapet dari pengamatan gw terhadap lingkungan sekitar gw.

So, what do you think guys? HEHE 😁




Senin, 06 Juni 2016

Tuhan, mengapa wanita sering menangis? (Repost)

Tuhan, mengapa wanita sering menangis?
Jawab Tuhan:
Karena wanita itu unik.
Aku ciptakan ia sebagai mahluk istimewa.
Aku kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anaknya.
Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman.
Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia.
Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah.
Aku beri dia naluri untuk mencintai anak-anak dalam keadaan apapun.
Aku kuatkan bathinnya untuk tetap menyayangi walau dikhianati oleh teman, walau disakiti oleh orang-orang yang ia sayangi.
Wanita mahluk kuat!
Tetapi jika suatu saat dia menangis itu karena Aku beri dia air mata untuk membasuh luka bathin dan memberi kekuatan baru.

Hujan di hari pertama puasa.

Yay. It's raining outside. Biasanya, kalo puasa panas banget, tapi Alhamdulillah cuacanya hujan, jadi hawanya seger dan dingin, pastinya afdol banget kalo diisi dengan tidur huehehe. Gaklah ya, walaupun puasa gak boleh males-malesan harus tetap produktif. Wohoo, I feel so excited jalanin puasa tahun ini. Semoga kita diberikan kekuatan iman dan dilancarkan ibadahnya sampai hari kemenangan nanti. Amiin ya rabbalamin.

Jumat, 12 Juli 2013

Repost : A daddy's letter for his little girl. (about her future husband)

Dear Cutie-Pie,

Recently, your mother and I were searching for an answer on Google. Halfway through entering the question, Google returned a list of the most popular searches in the world. Perched at the top of the list was “How to keep him interested.”

It startled me. I scanned several of the countless articles about how to be sexy and sexual, when to bring him a beer versus a sandwich, and the ways to make him feel smart and superior.

And I got angry.

Little One, it is not, has never been, and never will be your job to “keep him interested.”
Little One, your only task is to know deeply in your soul—in that unshakeable place that isn’t rattled by rejection and loss and ego—that you are worthy of interest. (If you can remember that everyone else is worthy of interest also, the battle of your life will be mostly won. But that is a letter for another day.)

If you can trust your worth in this way, you will be attractive in the most important sense of the word: you will attract a boy who is both capable of interest and who wants to spend his one life investing all of his interest in you.
Little One, I want to tell you about the boy who doesn’t need to be kept interested, because he knows you are interesting:
I don’t care if he puts his elbows on the dinner table—as long as he puts his eyes on the way your nose scrunches when you smile. And then can’t stop looking.

I don’t care if he can’t play a bit of golf with me—as long as he can play with the children you give him and revel in all the glorious and frustrating ways they are just like you.

I don’t care if he doesn’t follow his wallet—as long as he follows his heart and it always leads him back to you.

I don’t care if he is strong—as long as he gives you the space to exercise the strength that is in your heart.

I couldn’t care less how he votes—as long as he wakes up every morning and daily elects you to a place of honor in your home and a place of reverence in his heart.

I don’t care about the color of his skin—as long as he paints the canvas of your lives with brushstrokes of patience, and sacrifice, and vulnerability, and tenderness.

I don’t care if he was raised in this religion or that religion or no religion—as long as he was raised to value the sacred and to know every moment of life, and every moment of life with you, is deeply sacred.

In the end, Little One, if you stumble across a man like that and he and I have nothing else in common, we will have the most important thing in common:

You.
Because in the end, Little One, the only thing you should have to do to “keep him interested” is to be you.
Your eternally interested guy,

Daddy